- Ingat kembali wajah teman-teman kita, saudara, atau keluarga kita yang selama ini jarang bertemu dengan kita atau bahkan yang berselisih dengan kita.
- Do’akan kebaikan bagi mereka jika kita belum sempat bersilaturahmi.
- Muhasabah (evaluasi) diri kita, siapa saja yang pernah tersakiti oleh perlakuan ataupun perkataan kita.
- Minta maaflah dan sambungkanlah kembali tali yang pernah putus.
- Memberi maaf terlebih dahulu jika seandainya orang lain yang melakukan kesalahan.
- Tidak perlu kita menunggu permintaan maaf dari orang lain.
- Memaafkan berarti menghapus luka-luka atau bekas-bekas kekesalan yang ada di dada hingga hilang dari ingatan kita.
- Bukalah kembali lembaran baru hubungan kita.
- Ingatlah, mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah SWT. Karena itu dalam kamus agama tidak dikenal ungkapan “Tiada maaf bagimu”.
- Ingatlah sifat-sifat orang yang bertakwa yang antara lain mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang Muhsin, yakni berbuat kebajikan terhadap orang-orang yang pernah bersalah kepadanya.
- Saat berkunjung berikanlah oleh-oleh atau cindera mata pada orang yang dikunjungi.
- Berjabat tanganlah sebagai lambang kesediaan untuk membuka lembaran baru dan tidak mengingat lagi lembaran lama.
- Berbincanglah dengan akrab.
- Kirimi saudara kita pesan maaf dan selamat merayakan Idul Fitri melalui surat, telepon, e-mail, dll.
Upaya menjalin hubungan yang serasi setelah terjadinya disharmoni adalah inti silaturahmi. Semoga kita kembali meraih hubungan harmonis sebagaimana seharusnya seorang muslim terhadap muslim lainnya.
Ingatlah, bagi mereka yang memutuskan silaturahmi, Allah mengecamnya, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka.” (Q.S. Muhammad 47:22-23). Rasulullah SAW pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” (H.R. Muttafaqun Alaih).
Idul Fitri adalah momen yang tepat untuk menggalang silaturahmi. Karenanya, hendaklah kita meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dan kita pelihara jalinan silaturahmi tersebut pada hari-hari berikutnya. Wallahu A’lam. (Idham, MAPI 2002)
Wednesday, October 10, 2007
Tips Maaf Memaafkan
Mudik

Menurut Wikipedia, Mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.
Saat masih kecil dulu belum terbayang apa-apa, ritual mudik yang saya tahu Cuma libur lebaran, terus bepergian ke rumah saudara-saudara. Tetapi sebenarnya ada makna yang lebih dalam lagi, yaitu mengingat-ingat asal muasal atau jati diri. Lha saya, lahir dan besar di Bandung? Berarti? Saya nggak usah mudik dong?
Identitas orang jawa timur saya memang agak diragukan..hehehe..tapi ada yang paling berkesan dalam hidup saya, saya tidak bisa berbahasa Indonesia pada waktu masuk TK, yang ada teman-teman saya bengong alias nggak ngerti apa yang saya bicarakan...bayangin aja, dulu bapak dan ibu tinggal di lingkungan komplek tentara yang notabene orang jawa semua, dari mulai yang bertamu, saudara, sampai saya pergi ke warung pun itu memakai bahasa jawa, hasilnya yaaa gitu deh...hehehe
Tahun ini saya tidak mudik ke Kota Nganjuk di Jawa Timur, kota asal Bapak saya. Tradisi mudik ini paling saya tunggu-tunggu semenjak saya TK, karena dari kecil saya paling seneng kalau bepergian. Ketika saya SMA, saya paling bersemangat untuk mudik (meskipun saya lahir dan besar di Bandung, hehehe...) soalnya pas SMA baru punya SIM A, jadi suemangat buanget kalau nyetir mobil, apalagi jarak jauh, mau bablas sampai Bali pun nggak masalah, nggak ngantuk (kalau kata orang jawa, masih kemaruk baru bisa nyetir..hehehe). Setiap peristiwa mudik punya cerita masing-masing, saya bisa tahu saudara-saudara bapak dan ibu yang tersebar di Jawa Timur. Keluarga Bapak ada yang di Gempol, Sidoarjo, Surabaya, Kediri, Jombang, sedangkan keluarga Ibu ada di Mojokerto, Malang, dan Tuban.
Kangen rasanya bisa berkumpul dengan keluarga besar, bisa berbagi cerita. Bapak juga sering mengajak napak tilas tentang kehidupan masa kecilnya. Beliau harus jalan kaki kurang lebih 10 km untuk sekolah, ngalamin makan gaplek dan tiwul, belum ada listrik, kalau nonton TV nebeng di tempat pak lurah, hiburan lainnya paling berenang di kali atau cari burung ke hutan jati, seru kayaknya...
Kangen pengen mudik...
Kangen pengen ngumpul bareng adik kakak sepupu, bude, bulik, dll...
Kangen gule kambing buatan mBah Putri...
Kangen malem takbiran di kampung...
Kangen sate kambing di rumah bulik di Mojokerto...
Kangen Rujak Cingur...
Kangen Sego Pecel...
Kangen suasananya...
Kangen semuanya...
Buat teman-teman yang mudik tahun ini, selamat mudik, hati-hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan, salam buat orang-orang yang teman-teman kasihi....:)
Insya Allah tahun depan saya mudik...
Saat masih kecil dulu belum terbayang apa-apa, ritual mudik yang saya tahu Cuma libur lebaran, terus bepergian ke rumah saudara-saudara. Tetapi sebenarnya ada makna yang lebih dalam lagi, yaitu mengingat-ingat asal muasal atau jati diri. Lha saya, lahir dan besar di Bandung? Berarti? Saya nggak usah mudik dong?
Identitas orang jawa timur saya memang agak diragukan..hehehe..tapi ada yang paling berkesan dalam hidup saya, saya tidak bisa berbahasa Indonesia pada waktu masuk TK, yang ada teman-teman saya bengong alias nggak ngerti apa yang saya bicarakan...bayangin aja, dulu bapak dan ibu tinggal di lingkungan komplek tentara yang notabene orang jawa semua, dari mulai yang bertamu, saudara, sampai saya pergi ke warung pun itu memakai bahasa jawa, hasilnya yaaa gitu deh...hehehe
Tahun ini saya tidak mudik ke Kota Nganjuk di Jawa Timur, kota asal Bapak saya. Tradisi mudik ini paling saya tunggu-tunggu semenjak saya TK, karena dari kecil saya paling seneng kalau bepergian. Ketika saya SMA, saya paling bersemangat untuk mudik (meskipun saya lahir dan besar di Bandung, hehehe...) soalnya pas SMA baru punya SIM A, jadi suemangat buanget kalau nyetir mobil, apalagi jarak jauh, mau bablas sampai Bali pun nggak masalah, nggak ngantuk (kalau kata orang jawa, masih kemaruk baru bisa nyetir..hehehe). Setiap peristiwa mudik punya cerita masing-masing, saya bisa tahu saudara-saudara bapak dan ibu yang tersebar di Jawa Timur. Keluarga Bapak ada yang di Gempol, Sidoarjo, Surabaya, Kediri, Jombang, sedangkan keluarga Ibu ada di Mojokerto, Malang, dan Tuban.
Kangen rasanya bisa berkumpul dengan keluarga besar, bisa berbagi cerita. Bapak juga sering mengajak napak tilas tentang kehidupan masa kecilnya. Beliau harus jalan kaki kurang lebih 10 km untuk sekolah, ngalamin makan gaplek dan tiwul, belum ada listrik, kalau nonton TV nebeng di tempat pak lurah, hiburan lainnya paling berenang di kali atau cari burung ke hutan jati, seru kayaknya...
Kangen pengen mudik...
Kangen pengen ngumpul bareng adik kakak sepupu, bude, bulik, dll...
Kangen gule kambing buatan mBah Putri...
Kangen malem takbiran di kampung...
Kangen sate kambing di rumah bulik di Mojokerto...
Kangen Rujak Cingur...
Kangen Sego Pecel...
Kangen suasananya...
Kangen semuanya...
Buat teman-teman yang mudik tahun ini, selamat mudik, hati-hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan, salam buat orang-orang yang teman-teman kasihi....:)
Insya Allah tahun depan saya mudik...
Thursday, September 13, 2007
Kaum Ibu = The Influentials
Saya kutip dari bukunya Hermawan Kertajaya, bisa dikatakan bahwa seorang ibu menjadi the influentials atau pihak yang memengaruhi ibu-ibu lainnya. Dalam bukunya, The Influentials, Ed Keller dan Jon Berry mengatakan bahwa the influentials umumnnya mengacu kepada beberapa karakteristik.
Pertama, the influentials ummnya adalah seorang aktivis, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan kantor, hingga kegiatan santai. Mereka juga terlibat dalam berbagai komunitas yang ada karena ingin menyalurkan aspirasi atau pandangan mereka dan memengaruhi orang lain untuk mendukung pandangan mereka tersebut. Nah, umumnya, kaum ibu, baik yang bekerja atau tidak bekerja, terlibat secara aktif dalam suatu komunitas, mulai dari arisan sampai komunitas keagamaan. Di komunitas tersebut, mereka berbagi rasa dan saling memengaruhi.
Kedua, the influentials adalah mereka yang saling berhubungan. Harus kita akui bahwa kaum ibu cepat sekali membentuk jaringan yang luas, katakanlah dalam sebuah komunitas arisan. Komunitas yang mulanya berangotakan beberapa orang saja dalam sekejap mendapatkan banyak anggota. Kalau seorang ibu mengajak beberapa orang temannya untuk bergabung dalam arisan tersebut, kita bisa bayangkan, bagaimana pesatnya pertumbuhan anggota kelompok arisan ini.
Ketiga, the influentials pastilah merupakan orang-orang yang memiliki pengarug. Mereka merupakan orang-orang yang nasihatnya selalu dicari orang lain. Dalam sebuah komunitas ibu-ibu, umumnya ada beberapa ibu yang sangat berpengaruh dan dihormati. Perkataannya selalu didengar oleh ibu lainnya dan nasihatnya selalu ditaati karena dianggap suatu nasihat yang benar.
Keempat, the influentials biasanya merupakan trendsetters. The influentials selalu ingin menjadi yang terdepan dalam mengetahui sesuatu. Dalam dunia kaum ibu tidak disangkal lagi bahwa sebagian kaum ibu ingin menjadi trendsetter. Lihat saja bagaimana mereka berperilaku di arisan. Kalau sudah mau pergi ke arisan umumnya sang ibu akan mencari baju yang terbaik atau memakai aksesori yang unik. Mereka sangat bangga kalau orang lain memuji apa yang mereka kenakan dan mereka menganggap selangkah di depan yang lain dalam hal mode. Hal ini memang merupakan salah satu sifat dasar kaum wanita.
Dari berbagai hal diatas, dapat kita lihat bahwa kaum ibu menjadi the influentials bagi ibu lainnya. Mereka memberi rekomendasi, memberi saran dan kritik terhadap suatu produk dan memengaruhi ibu lainnya untuk menggunakan produk yang sama dengan mereka. Ibu lainnya pun percaya pada sang influentials tersebut dan melakukan apa pun yang mereka sarankan.
Bagaimana menurut anda?
Apakah anda salah satu dari The Influentials ?
Pertama, the influentials ummnya adalah seorang aktivis, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan kantor, hingga kegiatan santai. Mereka juga terlibat dalam berbagai komunitas yang ada karena ingin menyalurkan aspirasi atau pandangan mereka dan memengaruhi orang lain untuk mendukung pandangan mereka tersebut. Nah, umumnya, kaum ibu, baik yang bekerja atau tidak bekerja, terlibat secara aktif dalam suatu komunitas, mulai dari arisan sampai komunitas keagamaan. Di komunitas tersebut, mereka berbagi rasa dan saling memengaruhi.
Kedua, the influentials adalah mereka yang saling berhubungan. Harus kita akui bahwa kaum ibu cepat sekali membentuk jaringan yang luas, katakanlah dalam sebuah komunitas arisan. Komunitas yang mulanya berangotakan beberapa orang saja dalam sekejap mendapatkan banyak anggota. Kalau seorang ibu mengajak beberapa orang temannya untuk bergabung dalam arisan tersebut, kita bisa bayangkan, bagaimana pesatnya pertumbuhan anggota kelompok arisan ini.
Ketiga, the influentials pastilah merupakan orang-orang yang memiliki pengarug. Mereka merupakan orang-orang yang nasihatnya selalu dicari orang lain. Dalam sebuah komunitas ibu-ibu, umumnya ada beberapa ibu yang sangat berpengaruh dan dihormati. Perkataannya selalu didengar oleh ibu lainnya dan nasihatnya selalu ditaati karena dianggap suatu nasihat yang benar.
Keempat, the influentials biasanya merupakan trendsetters. The influentials selalu ingin menjadi yang terdepan dalam mengetahui sesuatu. Dalam dunia kaum ibu tidak disangkal lagi bahwa sebagian kaum ibu ingin menjadi trendsetter. Lihat saja bagaimana mereka berperilaku di arisan. Kalau sudah mau pergi ke arisan umumnya sang ibu akan mencari baju yang terbaik atau memakai aksesori yang unik. Mereka sangat bangga kalau orang lain memuji apa yang mereka kenakan dan mereka menganggap selangkah di depan yang lain dalam hal mode. Hal ini memang merupakan salah satu sifat dasar kaum wanita.
Dari berbagai hal diatas, dapat kita lihat bahwa kaum ibu menjadi the influentials bagi ibu lainnya. Mereka memberi rekomendasi, memberi saran dan kritik terhadap suatu produk dan memengaruhi ibu lainnya untuk menggunakan produk yang sama dengan mereka. Ibu lainnya pun percaya pada sang influentials tersebut dan melakukan apa pun yang mereka sarankan.
Bagaimana menurut anda?
Apakah anda salah satu dari The Influentials ?
Mulai dari Nol
Kata mas Erbe Sentanu, beliau bilang bahwa semuanya berasal dari 0 (nol) alias tidak ada apa-apa. Saya mau cerita pengalaman paman saya yang mau membuka dan menjalankan usaha jualan beras.
Cerita berawal dari paman saya yang membutuhkan pendapatan tambahan dan menabung untuk berbagai keperluan keluarganya kelak di kemudian hari. Setelah menimbang-nimbang bisnis apa yang akan dijalani, akhirnya jatuh pada jual beras, alasannya beras pasti laku karena merupakan bahan pokok, pasti tiap orang membutuhkannya. Sampai akhirnya bertemu dengan pak haji yang merupakan salah seorang bandar beras yang kalau dibilang levelnya sudah level kakap, kiosnya ada puluhan jumlahnya.
Setelah ngobrol kesana-kemari, diketahui bahwa pendidikan dari si pak haji ini tidak lulus SD, sedangkan paman saya ini lulusan Magister Manajemen dari Salah satu universitas ternama di Kota Bandung. Sewaktu pak haji nanya bagaimana rencana jualannya, paman saya menerangkan dengan runut berdasarkan teori yang diperoleh dari kuliahannya, mulai dari promosi lewat brosur, de el el. Eh lha kok ndilalah kata pak haji ke paman saya, “wah dik, kalau saya nggak pake ilmu gituan, saya langsung belajar di lapangan, nggak ngerti saya sama yang begituan”. Deg, wah ini nih kalau bicara langsung dengan pedege yang udah pengalaman, meskipun nggak sekolah tinggi, tapi ya itu, pengalamannya buanyak buanget atau istilah kerennya street smart lah.
Pak haji ini juga cerita bahwa banyak yang dibimbing oleh beliau, sekarang jadi pedege beras yang berhasil. Setelah beberapa lama akhirnya paman saya pamit pulang. Sesampainya dirumah, diskusi dengan keluarganya, dan keesokan harinya hunting kios untuk dagang beras. Setelah keliling-keliling dan tawar menawar, akhirnya sepakat untuk mengontrak sebuah kios di pasar.
Berikutnya, paman saya mengumpulkan modal untuk membeli stok beras ke pak haji. Tapi apa pas nyampe pak haji? Ternyata pak haji menyarankan untuk jangan membayar atau membeli beras dari pak haji. Pak haji mensyaratkan bahwa paman saya harus “magang” dulu di kios berasnya. Pak haji pesan, sekarang jangan menyetok beras dulu, belajar dagang dulu, harus tahu jenis-jenis beras, kualitas dan harga pasarannya seperti apa, bagaimana menangani pelanggan, dll. Duing....paman saya bengong, tadinya berangkat dari rumah dengan menyiapkan sejumlah uang untuk membeli beras, tapi akhirnya apa? Ya itu tadi, “magang” dulu....hehehe
Masih ada orang-orang yang “care” seperti itu ya, tidak langsung mentang-mentang dengan modal yang cukup bisa langsung jualan, tapi pak haji mensyaratkan “magang” dulu, kalau niat jualan kan tinggal jual saja nggak perlu harus magang dulu. Ternyata, kalau saya tangkap dari pembicaraan antara pak haji dengan paman saya, pak haji nggak sekedar ngobrol biasa saja, tapi juga ingin mengetahui sejauhmana keseriusan dan kegigihan dalam memulai usaha. Kalau ada orang yang minta diajarin, ya diajarin dari mulai nol, apalagi sebelumnya belum pernah jualan beras.
Cerita berawal dari paman saya yang membutuhkan pendapatan tambahan dan menabung untuk berbagai keperluan keluarganya kelak di kemudian hari. Setelah menimbang-nimbang bisnis apa yang akan dijalani, akhirnya jatuh pada jual beras, alasannya beras pasti laku karena merupakan bahan pokok, pasti tiap orang membutuhkannya. Sampai akhirnya bertemu dengan pak haji yang merupakan salah seorang bandar beras yang kalau dibilang levelnya sudah level kakap, kiosnya ada puluhan jumlahnya.
Setelah ngobrol kesana-kemari, diketahui bahwa pendidikan dari si pak haji ini tidak lulus SD, sedangkan paman saya ini lulusan Magister Manajemen dari Salah satu universitas ternama di Kota Bandung. Sewaktu pak haji nanya bagaimana rencana jualannya, paman saya menerangkan dengan runut berdasarkan teori yang diperoleh dari kuliahannya, mulai dari promosi lewat brosur, de el el. Eh lha kok ndilalah kata pak haji ke paman saya, “wah dik, kalau saya nggak pake ilmu gituan, saya langsung belajar di lapangan, nggak ngerti saya sama yang begituan”. Deg, wah ini nih kalau bicara langsung dengan pedege yang udah pengalaman, meskipun nggak sekolah tinggi, tapi ya itu, pengalamannya buanyak buanget atau istilah kerennya street smart lah.
Pak haji ini juga cerita bahwa banyak yang dibimbing oleh beliau, sekarang jadi pedege beras yang berhasil. Setelah beberapa lama akhirnya paman saya pamit pulang. Sesampainya dirumah, diskusi dengan keluarganya, dan keesokan harinya hunting kios untuk dagang beras. Setelah keliling-keliling dan tawar menawar, akhirnya sepakat untuk mengontrak sebuah kios di pasar.
Berikutnya, paman saya mengumpulkan modal untuk membeli stok beras ke pak haji. Tapi apa pas nyampe pak haji? Ternyata pak haji menyarankan untuk jangan membayar atau membeli beras dari pak haji. Pak haji mensyaratkan bahwa paman saya harus “magang” dulu di kios berasnya. Pak haji pesan, sekarang jangan menyetok beras dulu, belajar dagang dulu, harus tahu jenis-jenis beras, kualitas dan harga pasarannya seperti apa, bagaimana menangani pelanggan, dll. Duing....paman saya bengong, tadinya berangkat dari rumah dengan menyiapkan sejumlah uang untuk membeli beras, tapi akhirnya apa? Ya itu tadi, “magang” dulu....hehehe
Masih ada orang-orang yang “care” seperti itu ya, tidak langsung mentang-mentang dengan modal yang cukup bisa langsung jualan, tapi pak haji mensyaratkan “magang” dulu, kalau niat jualan kan tinggal jual saja nggak perlu harus magang dulu. Ternyata, kalau saya tangkap dari pembicaraan antara pak haji dengan paman saya, pak haji nggak sekedar ngobrol biasa saja, tapi juga ingin mengetahui sejauhmana keseriusan dan kegigihan dalam memulai usaha. Kalau ada orang yang minta diajarin, ya diajarin dari mulai nol, apalagi sebelumnya belum pernah jualan beras.
Marhaban Ya Ramadhan 1428 H

Selamat datang bulan Ramadhan, bulan dari segala bulan. Bulan yang selalu dinanti-nanti umat Muslim se-dunia. Bulan yang penuh hikmah, barokah, rahmah dan ampunan.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan petunjuk-Nya agar kita dapat meraih kemenangan di kemudian hari, dihapuskan semua dosa kita, dan diterima segala amal ibadah kita seperti bayi yang baru lahir, kembali lagi ke fitrahnya.
Mohon maaf lahir dan batin....Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Semoga kesucian hati, pikiran dan tindakan selama berpuasa akan menjadikan kita menjadi umat yang lebih baik lagi. Semoga Allah SWT melimpahkan kasih dan sayang-Nya bagi kita semua..amin
Subscribe to:
Posts (Atom)